Lewati ke konten utama
Dunia

Jejak Bukti di Balik Kasus Pelecehan di Pesantren Lombok: Dari Investigasi Mantan Siswa hingga Pernikahan

Kisah mantan siswa pesantren Lombok mengungkap dugaan pelecehan kepala sekolah. Mereka kumpulkan bukti, rekam upaya pembungkaman, lalu menikah.

BagikanBagikan artikel ini

Ziadatur Rahmah dan Yusron Azzahidi pernah menjadi siswa teladan di sebuah pesantren di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bertahun-tahun setelah lulus, keduanya justru dipertemukan oleh sebuah rahasia kelam yang tersimpan di lingkungan sekolah berasrama Abu Barokat. Rahasia itu bukan soal prestasi atau kenangan manis, melainkan dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh pemimpin mereka sendiri, Ahmad Imanuddin Sumar, yang akrab disapa “Abah” atau “bapak” oleh para santri.

Kisah Zia dan Yusron menjadi perhatian publik setelah BBC World Service melaporkan investigasi mereka. Laporan itu tidak hanya mengungkap kesaksian para korban, tetapi juga merekam upaya pembungkaman yang dilakukan oleh seorang tokoh yang seharusnya melindungi. Di tengah proses panjang dan menyakitkan itu, hubungan Zia dan Yusron tumbuh. Kini, keduanya menikah.

Dari Percakapan Malam ke Investigasi Bersama

Presiden Prabowo Subianto menghadiri peringatan 100 tahun Ponpes Gontor
Photo by Muhaimin Abdul Aziz on Pexels · Source

Zia dan Yusron bukan siswa biasa di Abu Barokat. Mereka dikenal berprestasi dan dihormati. Setelah lulus, Zia melanjutkan studi ke Kairo, Mesir, sementara Yusron berkuliah di Jakarta. Jarak tidak memutus komunikasi mereka. Suatu malam, saat berbincang tentang masa sekolah, Zia mengungkapkan sesuatu yang selama ini ia pendam: Abah telah melakukan pelecehan seksual terhadapnya ketika ia berusia 16 tahun.

Pengakuan itu membuat Yusron terkejut dan bingung. Sekolah mereka telah menanamkan semboyan “Sami’na wa ata’na” yang berarti “kami mendengar dan kami taat”. Kepatuhan kepada guru dan pemimpin pesantren adalah nilai yang dijunjung tinggi. Namun, Yusron tidak bisa mengabaikan cerita Zia. Ia kemudian mengusulkan agar Zia, bersama dua teman sekolahnya, Wanda Hamidah dan Mahima Eka, mulai mengumpulkan bukti untuk mendukung kesaksian tersebut.

Langkah itu membuahkan hasil. Satu per satu mantan siswa angkat bicara. Mereka berbagi kenangan dan pengalaman melalui grup percakapan WhatsApp. Kesaksian paling signifikan datang dari teman Wanda. Ia mengingat pernah melihat seorang gadis muda menangis di kamar mandi sekolah pada malam hari di tahun terakhir mereka. Tak lama setelah itu, Abah muncul mencari gadis tersebut dengan wajah merah padam dan napas terengah-engah.

Gadis itu adalah Sukma Rohana, yang saat itu masih bersekolah di sana. Ketika diwawancarai BBC, Sukma menceritakan pengalamannya sendiri. Pada usia 17 tahun, Abah memintanya ikut serta dalam salat malam tahun baru. Begitu masuk ke rumah Abah, ia mengaku mulut Sukma ditutup dan ia diminta berbaring. Abah, menurut Sukma, lalu membuka pakaian bagian bawahnya.

“Dia terus berbicara, mengatakan dia tidak bisa mengendalikan diri lagi. Dia meraba-raba saya melalui celana dalam... Dia mencoba memperkosa saya.”

Sukma menemukan kekuatan untuk menendang perut Abah dengan keras dan melarikan diri. Saat berlari, ia sempat menoleh ke belakang dan melihat sinar senter Abah yang berusaha mencarinya. Kesaksian Sukma dan yang lainnya memperkuat keyakinan Yusron bahwa apa yang mereka hadapi adalah pola, bukan insiden tunggal.

Rekaman yang Menjadi Bukti Upaya Pembungkaman

Pemandangan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat
Photo by Luqman Hakim on Pexels · Source

Ketika Abah mengetahui bahwa Yusron dan teman-temannya sedang mengumpulkan kesaksian, ia tidak tinggal diam. Suatu hari, Yusron menerima pesan mendesak dari adiknya untuk segera menelepon. Namun, ketika Yusron menelepon nomor adiknya, suara yang menyambut bukanlah suara adiknya, melainkan suara Abah. Pria itu ternyata sedang berada di rumah keluarga Yusron.

“Saya tahu. Saya tahu persis apa yang ingin dia bicarakan,” kata Yusron. Abah, yang reputasinya sedang terancam, berusaha melakukan apa yang menurut para ahli hukum sering terjadi dalam kasus serupa: menekan korban dan saksi agar diam.

Dalam rekaman panggilan yang dibuat Yusron, Abah terdengar terisak dan memohon. “Tutupi aib gurumu. Semua orang membuat kesalahan, anakku,” ujarnya. Yusron merekam setiap kata. Rekaman itu menjadi bukti penting yang menunjukkan upaya pembungkaman dari pihak yang seharusnya bertanggung jawab.

Perekaman itu bukan sekadar tindakan spontan. Dalam konteks kasus pelecehan seksual, bukti semacam ini bisa menjadi kunci ketika kesaksian korban sering kali diragukan atau ditekan untuk dicabut. Rekaman tersebut juga memperlihatkan pola yang lazim: pelaku atau orang yang berkepentingan berusaha menekan korban dengan dalih menjaga nama baik institusi dan menghindari rasa malu.

Mengapa Kasus Pelecehan di Pesantren Sering Tidak Sampai ke Pengadilan

Ruang sidang pengadilan di Indonesia
Photo by Christian Wasserfallen on Pexels · Source

Kasus yang menimpa Zia, Sukma, dan siswa lain di Abu Barokat bukanlah fenomena tunggal. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan Indonesia telah menyebut pelecehan seksual di pesantren sebagai darurat nasional. Pesantren, sebagai lembaga pendidikan berbasis agama, seharusnya menjadi tempat yang aman bagi para santri untuk menimpa ilmu dan membentuk karakter. Namun, realitasnya, banyak kasus pelecehan yang justru terjadi di dalamnya.

Para ahli hukum menyoroti mengapa kasus-kasus pelecehan seksual di lingkungan pesantren jarang sampai ke meja hijau. Salah satu penyebab utamanya adalah korban sering kali dibujuk untuk menarik kembali tuduhan mereka. Bujukan ini bisa datang dari berbagai pihak, mulai dari keluarga, tokoh agama, hingga pihak pesantren sendiri yang berusaha menjaga nama baik lembaga.

Selain itu, ada pula tekanan sosial yang kuat. Dalam masyarakat yang sangat menghormati guru dan pemimpin agama, melaporkan dugaan pelecehan bisa dianggap sebagai tindakan tidak sopan atau bahkan dosa. Korban yang berani bersuara sering kali menghadapi risiko dikucilkan dari komunitas. Akibatnya, banyak pelaku tidak pernah mempertanggungjawabkan perbuatannya secara hukum, dan praktik pelecehan terus berlanjut tanpa terdeteksi.

Upaya Yusron dan teman-temannya untuk mengumpulkan bukti dan merekam panggilan Abah adalah salah satu cara untuk melawan budaya diam tersebut. Namun, perjalanan menuju keadilan tetap panjang dan penuh rintangan. Dalam banyak kasus, korban tidak memiliki akses ke bantuan hukum yang memadai, atau tidak tahu ke mana harus melapor. Ketika institusi agama memiliki otoritas besar, suara korban sering kali tenggelam.

Peran Solidaritas Sesama Korban dalam Mengungkap Kebenaran

Investigasi yang dilakukan Zia, Yusron, Wanda, dan Mahima menunjukkan pentingnya solidaritas. Mereka tidak bekerja sendiri. Mereka menghubungi teman-teman sekelas, mengumpulkan cerita, dan saling menguatkan. Proses ini tidak mudah karena setiap kesaksian membuka luka lama. Namun, keberanian satu orang mendorong yang lain untuk berbicara.

Pola ini sejalan dengan temuan banyak organisasi perlindungan perempuan: korban lebih mungkin melapor ketika mereka merasa didengar dan didukung oleh orang lain yang mengalami hal serupa. Di pesantren, di mana hierarki dan kepatuhan sangat kuat, solidaritas antaralumni menjadi jalur alternatif untuk mencari keadilan ketika mekanisme internal tidak berfungsi.

Kisah Sukma, yang berhasil melarikan diri setelah menendang perut Abah, juga menunjukkan bahwa perlawanan bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Meski tidak semua korban memiliki kesempatan yang sama, kesaksian mereka memperkuat gambaran bahwa pelecehan bukan insiden tunggal. Ini adalah pola yang membutuhkan respons sistemik, bukan hanya penyelesaian individual.

Dampak Jangka Panjang bagi Korban dan Institusi

Bagi Zia, peristiwa itu meninggalkan luka yang mendalam. “Saya merasa sangat kotor, rusak, dan saya tersesat,” kenangnya. Perasaan itu tidak hilang begitu saja. Bertahun-tahun kemudian, ia masih harus berjuang untuk memulihkan diri. Namun, berbicara kepada BBC dan berbagi kisahnya menjadi bagian dari proses penyembuhan.

Bagi pesantren, kasus ini menjadi pukulan terhadap reputasi. Abah dikenal sebagai pemimpin yang dihormati. Kepercayaan yang dibangun bertahun-tahun runtuh ketika kesaksian para korban muncul. Institusi keagamaan yang seharusnya menjadi teladan moral justru menghadapi pertanyaan besar tentang pengawasan dan akuntabilitas.

Kasus ini juga menyoroti perlunya reformasi di pesantren. Beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan antara lain mekanisme pelaporan yang aman dan rahasia, pelatihan bagi pengajar tentang pencegahan pelecehan, serta keterlibatan pihak eksternal dalam menangani tuduhan. Tanpa langkah-langkah ini, risiko pelecehan akan terus ada, dan korban akan terus terjebak dalam budaya diam.

Jalan Menuju Keadilan dan Kehidupan Baru

Di tengah proses investigasi yang melelahkan dan penuh tekanan, hubungan antara Zia dan Yusron berkembang. Apa yang dimulai sebagai solidaritas sesama korban dan teman sekolah perlahan tumbuh menjadi ikatan yang lebih dalam. Mereka saling mendukung, berbagi beban, dan bersama-sama menghadapi kenyataan pahit yang menimpa masa remaja mereka.

Perjalanan panjang mencari keadilan tidak hanya membawa mereka pada upaya mengungkap kebenaran, tetapi juga pada sebuah kehidupan baru bersama. Kini, Zia dan Yusron telah menikah. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa dari luka yang terdalam, seseorang bisa menemukan kekuatan dan cinta yang tak terduga.

Namun, perjuangan mereka belum selesai. Kasus dugaan pelecehan oleh Abah masih menyisakan pertanyaan tentang keadilan bagi para korban lain dan perlunya reformasi sistemik di pesantren-pesantren di Indonesia. Keberanian Zia, Yusron, Sukma, dan para saksi lainnya menjadi pijakan penting untuk mendorong perubahan, agar tempat yang seharusnya melindungi justru tidak menjadi sarang bagi mereka yang menyalahgunakan kekuasaan.

Bagi pembaca yang menghadapi situasi serupa, penting untuk mengetahui bahwa bantuan bisa dicari. Di Indonesia, Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan memiliki kanal pengaduan. Selain itu, organisasi masyarakat sipil yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak juga dapat menjadi tempat berlindung. Langkah pertama memang berat, tetapi bukti dan dukungan dari orang lain bisa menjadi fondasi untuk menuntut keadilan.

Kisah Zia dan Yusron bukan sekadar cerita tentang bertahan. Ini adalah catatan tentang bagaimana dua orang yang pernah merasa hancur bisa bangkit, mengumpulkan bukti, dan membangun hidup baru. Mereka tidak hanya mengejar keadilan, tetapi juga menunjukkan bahwa solidaritas dan keberanian dapat mengubah sesuatu yang tampak mustahil.

Sumber & Referensi

Referensi berikut digunakan sebagai bahan fakta/rujukan. Artikel disusun kembali secara editorial dan tidak dimaksudkan sebagai salinan sumber.

  1. Our head teacher was an abuser. We joined forces to get justice - now we're married
Penulis

Anisa Center

Lihat artikel penulis →
Bagikan artikel

Bagikan berita ini

Kirim ke teman atau simpan tautannya untuk dibaca lagi.