Lewati ke konten utama
Teknologi

Kisah Boeing 747 Terbang Tanpa Mesin Setelah Terjang Abu Galunggung

Mengapa abu vulkanik sangat berbahaya bagi penerbangan? Simak penjelasan ahli soal insiden Boeing 747 British Airways 1982 dan risiko silika bagi mesin jet.

BagikanBagikan artikel ini

Awan kelabu dari erupsi gunung berapi kerap tampak tidak berbahaya bila dilihat dari kejauhan. Bagi penerbangan, gumpalan itu justru menyimpan risiko yang tidak terlihat oleh mata maupun radar cuaca biasa. Partikel yang sangat halus di dalamnya mampu menghentikan kerja mesin jet dalam waktu singkat, seperti yang pernah dialami sebuah penerbangan jarak jauh di langit Jawa Barat lebih dari empat dekade lalu.

Peristiwa tersebut kembali diangkat oleh Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia, Daryono, dalam keterangan resmi pada Minggu (6/9). Ia menjelaskan ulang kronologi British Airways Penerbangan 9 pada 1982 sekaligus menguraikan mekanisme mengapa abu vulkanik begitu merusak bagi pesawat. Penjelasan itu relevan dengan keputusan menahan operasional di sejumlah bandara ketika Gunung Anak Krakatau erupsi pada hari yang sama.

Empat Mesin Padam Bersamaan di Ketinggian Jelajah

Citra satelit sebaran awan abu vulkanik di atas laut lepas
Photo by Marek Piwnicki on Pexels · Source

Pada 24 Juni 1982, sebuah Boeing 747 yang mengoperasikan British Airways Penerbangan 9 melintas di ketinggian sekitar 37 ribu kaki. Tanpa disadari, jalur yang ditempuh membawa pesawat masuk ke sebaran abu dari erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat. Pada ketinggian jelajah, awan abu yang telah menyebar luas tidak selalu tampak kontras. Radar cuaca di kokpit yang dirancang untuk menangkap tetesan air juga tidak optimal untuk mendeteksi partikel batuan kering, sehingga kehadiran bahaya itu tidak segera disadari kru.

Daryono menggambarkan apa yang terjadi setelahnya. Partikel silika yang terkandung dalam abu terhisap ke dalam keempat mesin jet. Di dalam mesin yang sedang bekerja dengan suhu sangat tinggi, partikel tersebut meleleh lalu terbawa aliran panas menuju bagian turbin yang relatif lebih dingin. Di sana lelehan membeku kembali dan menempel sebagai lapisan keras mirip kaca pada permukaan bilah turbin.

Pelapisan itu mengubah kondisi aliran udara di dalam mesin. Saluran yang seharusnya mengalirkan udara dengan presisi menjadi terhambat, proses pembakaran terganggu, dan keempat mesin mengalami flameout atau padamnya pembakaran secara mendadak dalam waktu yang hampir bersamaan. Pesawat kehilangan seluruh daya dorong dan hanya mengandalkan daya luncur.

Dalam kondisi tanpa mesin, pesawat melayang sejauh puluhan kilometer hingga akhirnya keluar dari konsentrasi abu yang paling pekat. Keluar dari paparan menjadi momen penting. Pada ketinggian yang lebih rendah, suhu di dalam mesin ikut menurun, kerak kaca yang sebelumnya menempel mulai mendingin dan terlepas. Jalur udara kembali terbuka sehingga kru memiliki peluang untuk mencoba menyalakan ulang mesin. Kapten Eric Moody bersama kru berhasil menghidupkan kembali mesin setelah periode meluncur tersebut, lalu mengarahkan pesawat menuju pendaratan darurat yang berhasil dilakukan dengan selamat di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Silika yang Meleleh di Ruang Bakar dan Membeku Jadi Kerak Kaca

Teknisi memeriksa bilah turbin mesin jet yang rentan terhadap abrasi abu vulkanik
Photo by Joerg Mangelsen on Pexels · Source

Penjelasan Daryono menekankan perbedaan mendasar antara abu vulkanik dan awan biasa. Awan meteorologis pada umumnya tersusun dari tetesan air atau kristal es yang akan menguap atau mencair ketika melewati inti mesin yang panas. Abu vulkanik tidak demikian. Material ini berasal dari fragmentasi batuan yang terpecah menjadi butiran mikroskopis, dengan kandungan utama silika atau SiO2 serta kristal mineral berujung tajam. Teksturnya keras dan sangat abrasif, sehingga interaksinya dengan komponen pesawat jauh lebih merusak.

Sifat abrasif itu baru satu bagian dari ancaman. Bahaya yang lebih menentukan terjadi di dalam mesin turbofan. Suhu di ruang bakar ketika mesin beroperasi berada pada kisaran 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius. Pada rentang tersebut, senyawa silika yang titik lelehnya berada di sekitar 1.100 derajat Celsius hampir pasti akan meleleh begitu terhisap. Partikel yang semula padat berubah menjadi cairan kental yang mengikuti aliran udara panas.

Ketika cairan silika mencapai area turbin yang suhunya lebih rendah, proses sebaliknya terjadi dengan cepat. Material yang meleleh membeku kembali dan menempel sebagai kerak kaca pada nosel serta permukaan bilah. Lapisan ini tidak tipis dan tidak rata. Penumpukan mengubah bentuk aerodinamika bilah yang dirancang dengan toleransi sangat ketat, mengganggu kelancaran aliran udara, dan dapat menyumbat jalur. Akibatnya mesin mengalami stall atau hambatan aliran yang berujung pada hilangnya pembakaran internal secara total.

Mekanisme inilah yang menjelaskan mengapa kegagalan pada kasus 1982 tidak terjadi pada satu mesin saja. Keempat mesin menghisap udara dari lingkungan yang sama, sehingga paparan silika terjadi serentak. Ketika ambang penumpukan terlampaui, padamnya pembakaran dapat terjadi bersamaan, situasi yang sangat jarang dalam gangguan teknis biasa dan menempatkan pesawat pada kondisi darurat yang ekstrem.

Daryono juga mengingatkan bahwa abu vulkanik bukan sekadar debu halus yang mudah hilang tertiup angin. Karena tersusun dari fragmentasi kaca silika dan mineral tajam, partikelnya mampu bertahan di atmosfer pada ketinggian jelajah dan terbawa angin hingga puluhan bahkan ratusan kilometer dari sumber erupsi. Karakter inilah yang membuat sebaran abu sulit diprediksi hanya dengan pengamatan visual dari kokpit.

Erosi Kaca Kokpit hingga Gangguan Kelistrikan

1.558 Penerbangan Tertunda dan 170.000 Penumpang Tertahan Akibat Abu Vulkanik Anak Krakatau
Photo by Farid S on Pexels · Source

Kerusakan yang ditimbulkan abu tidak berhenti pada hilangnya daya dorong. Pada kecepatan jelajah, tumbukan antara badan pesawat dan partikel keras terjadi dengan energi tinggi. Salah satu dampak yang paling cepat terasa adalah pada kaca kokpit. Paparan terus-menerus dapat mengikis permukaan kaca hingga menjadi buram. Visibilitas yang menurun sangat berisiko, terutama ketika kru harus menyiapkan pendaratan darurat dengan panduan visual terbatas.

Sensor yang menonjol di luar badan pesawat juga rentan. Pitot tube, perangkat kecil yang mengukur kecepatan udara melalui tekanan aliran, dapat terkikis atau tersumbat oleh butiran abu. Jika pembacaan kecepatan menjadi tidak akurat, pilot dan sistem avionik kehilangan acuan penting untuk menjaga sudut dan kecepatan luncur yang aman. Pada pesawat yang sedang meluncur tanpa mesin, akurasi data semacam itu menjadi penentu apakah pesawat dapat mempertahankan ketinggian dan jarak luncur yang dibutuhkan.

Di dalam mesin, selain pembentukan kerak kaca, terjadi pula erosi pada bilah turbin dan lapisan pelindungnya. Hantaman partikel tajam secara berulang mengikis permukaan logam, mengurangi kehalusan dan efisiensi aerodinamika. Kerusakan ini sering tidak langsung terlihat, namun dapat memperpendek usia pakai komponen dan meningkatkan kebutuhan inspeksi mendalam setelah pesawat melewati wilayah yang diduga terpapar abu, bahkan jika mesin tampak kembali normal.

Aspek lain yang disoroti berkaitan dengan kelistrikan dan komunikasi. Gesekan antarpartikel abu yang bergerak sangat cepat dapat menimbulkan akumulasi muatan listrik statis dalam jumlah besar. Muatan tersebut dapat memicu pijaran pada kaca kokpit atau ujung-ujung pesawat yang dikenal sebagai St. Elmo's Fire, sekaligus menimbulkan interferensi pada frekuensi radio. Pada situasi darurat, ketika komunikasi dengan pengatur lalu lintas udara harus berjalan tanpa hambatan, gangguan interferensi menambah beban kerja kru.

Komposisi kimia abu turut memperluas dampak. Partikel vulkanik kerap membawa senyawa asam yang menempel pada permukaannya. Senyawa ini berpotensi memicu korosi pada komponen elektronik sensitif dan mencemari sistem pengondisian udara kabin yang mengambil pasokan dari mesin atau bleed air. Jika udara yang masuk ke kabin terkontaminasi, kualitas udara di dalam pesawat dapat terganggu dan perangkat elektronik berisiko mengalami kerusakan lanjutan yang tidak langsung terlihat setelah pendaratan.

Keputusan Menahan Penerbangan Saat Anak Krakatau Erupsi

Rangkaian risiko tersebut menjadi latar mengapa otoritas penerbangan memilih langkah konservatif ketika aktivitas vulkanik meningkat. Daryono menilai penghentian sementara operasional di beberapa bandara pada Minggu (6/9) saat Gunung Anak Krakatau erupsi sebagai keputusan yang tepat. Pertimbangannya berpusat pada keselamatan, bukan pada upaya mempertahankan jadwal keberangkatan.

Menutup ruang udara atau menghentikan operasional bandara memang menimbulkan efek berantai, mulai dari penundaan hingga pengalihan rute. Namun pengalaman British Airways 9 menunjukkan bahwa paparan abu tidak harus tampak tebal untuk menimbulkan konsekuensi serius. Awan yang terlihat samar di ketinggian jelajah tetap dapat mengandung konsentrasi silika yang cukup untuk memicu padamnya mesin secara bersamaan.

Dengan menahan penerbangan sejak awal, peluang pertemuan tidak sengaja antara pesawat dan sebaran abu dapat ditekan. Pendekatan ini juga memberi waktu bagi pemantauan sebaran abu, analisis arah angin di ketinggian jelajah, serta koordinasi antara pos pengamatan gunung api dan otoritas bandara. Ketika informasi tersebut mengalir cepat, pesawat dapat diarahkan memutar lebih awal sebelum memasuki zona yang berpotensi terpapar.

Kisah Boeing 747 yang meluncur puluhan kilometer tanpa mesin dan akhirnya mendarat selamat di Halim Perdanakusuma sering dikenang sebagai kombinasi keterampilan kru dan keberuntungan teknis. Dari sisi keselamatan penerbangan, peristiwa itu lebih tepat dibaca sebagai peringatan. Abu vulkanik bukan debu biasa, melainkan material silika tajam yang mampu meleleh di ruang bakar, membeku menjadi kerak kaca di turbin, mengikis sensor, mengaburkan pandangan, dan mengacaukan sistem kelistrikan dalam satu rangkaian yang saling terkait. Selama kolom erupsi masih aktif dan sebaran abu belum dipastikan aman, menahan penerbangan tetap menjadi pilihan yang paling rasional untuk menghindari pengulangan risiko serupa pada operasional modern.

Sumber & Referensi

Referensi berikut digunakan sebagai bahan fakta/rujukan. Artikel disusun kembali secara editorial dan tidak dimaksudkan sebagai salinan sumber.

  1. Kisah Boeing 747 Terbang Tanpa Mesin Usai Terjang Abu Vulkanik
Penulis

Digital Store

Lihat artikel penulis →
Bagikan artikel

Bagikan berita ini

Kirim ke teman atau simpan tautannya untuk dibaca lagi.